" Kowé padha olèh tanpa nganggo mbayar gunakna tanpa nganggo bayaran " (Matius 10:8)

HOME  |  PETA SITE  |  KONTAK  |  PERTOLONGAN    
Pelajaran Alkitab Buku Kristen Gratis eBook Kristen Gratis Tentang Kami
 



 Khotbah-khotbah tentang pokok yang penting oleh Rev. Paul C. Jong

 

Kalau  kita mentaati Hukum Taurat,
apakah itu dapat menyelamatkan kita?


< Lukas 10:25-30 >

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Jahshua, katanya; “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Jahshua kepadanya; “Apa yang kaubaca di sana?” Jawab orang itu ; “Kasihilah Tuhan,Jahwehmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Jahshua kepadanya; “Jawabmu itu yang sesungguhnya; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk memyang sesungguhnyakan dirinya orang itu berkata kepada Jahshua; “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Jahshua; “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho ; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.”


Apakah masalah terbesar manusia?
Dia hidup dengan khayalan-khayalan
yang salah

Lukas 10:28, “perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Manusia hidup dengan khayalan-khayalan yang salah. Kelihatannya mereka sangat lemah di dalam segi ini. Mereka nampaknya pandai tetapi dengan mudah ditipu dan tidak bisa melihat sisi jahat mereka. Kita dilahirkan tanpa memiliki kesadaran tentang diri kita sendiri. Karena  mereka tidak mengenal diri sendiri, maka Alkitab memberitahukan keadaan manusia, bahwa manusia adalah berdosa.

Manusia berbicara tentang adanya dosa mereka. Dan kadang-kadang, kelihatannya manusia sebenarnya tidak bisa melakukan sesuatu yang baik dan mereka terlalu banyak menganggap dirinya sebagai orang baik. Mereka terlalu membanggakan dirinya tentang kerja mereka. Mereka ingin menyombongkan kebaikan dan memamerkan hasil pekerjaan mereka. Dengan bibir mereka, mereka berkata bahwa mereka orang berdosa, tapi mereka berlaku seolah-olah mereka adalah orang baik.

Mereka tahu bahwa mereka tidak memiliki kebaikan di dalam diri mereka dan tidak bisa melakukan yang baik tetapi mereka berusaha mendustai orang lain dan bahkan kadangkala mendustai diri mereka sendiri. “Kita tidak akan mungkin menjadi sepenuhnya jahat.  Pasti di dalam diri kita ada juga kebaikan.”

 Oleh karena itu mereka melihat diri sendiri dan berkata, “Ya ampun, mengapa dia lakukan hal itu. Pasti sangat lebih baik kalau ia tidak melakukan hal itu. Ia pasti akan lebih baik kalau ia berkata seperti ini. Saya rasa lebih baik mengajarkan Injil dengan cara begini dan begini. Ia sudah lama menjadi orang Kristen, jadi saya rasa ia harus menunjukkan perbuatan yang baik. Saya memang baru saja menjadi orang Kristen tetapi perbuatan saya jauh lebih baik dari pada perbuatannya.”

Mereka mengasah pisau di dalam hati mereka. “Tunggu saja. Kamu akan melihat bahwa saya tidak seperti kamu. Jadi kamu merasa dirimu lebih baik dari pada aku? Tunggu saja. Dalam Alkitab tertulis bahwa yang terdahulu akan menjadi yang terkemudian dan yang terkemudian akan menjadi yang terdahulu. Saya tahu ayat itu cocok untuk saya. Tunggu saja dan aku akan menunjukannya kepadamu.” Mereka menipu mereka sendiri.

Walaupun dia akan melakukan hal yang sama kalau ia menghadapi situasi yang sama, tetapi ia menghakimi orang lain. Kemudian kalau ia diberi kesempatan untuk berdiri di depan seperti orang lain, ia akan mendapati bahwa dirinya juga sama gemetar dan gugupnya seperti orang lain. Para pengkhotbah seharusnya hanya memandang kepada Jahweh dan tidak memulai dengan memikirkan mengenai apa yang dipikirkan orang lain.  Kalau mereka memulai dari pandangan yang salah, mereka tidak akan bisa berkhotbah.

Sewaktu manusia ditanyakan bahwa apakah mereka bisa berbuat baik, kebanyakan mereka akan mengatakan bahwa mereka tidak bisa. Tetapi mereka mengkhayal bahwa mereka memiliki kemampuan itu. Oleh karena itu kemudian mereka berusaha keras sampai mereka mati.

Mereka berpikir bahwa mereka mempunyai ‘kebaikan’ di dalam hati mereka. Mereka juga berpikir bahwa mereka sendiri cukup baik. Tanpa memperhatikan berapa lama mereka sudah dilahirkan kembali, bahkan mereka yang sudah mendapat banyak kemajuan di dalam pelayanan Jahweh akan berpikir, “Saya bisa melakukan ini dan itu untuk Jahweh.”

Akan tetapi kalau kita mengeluarkan Jahweh dari kehidupan kita, apakah kita bisa melakukan kebaikan? Apakah ada kebaikan di dalam diri manusia? Bisakah ia berbuat yang baik? Manusia tidak mempunyai kemampuan melakukan kebaikan. Kapan saja manusia berusaha untuk berbuat sesuatu dari dirinya sendiri, ia berdosa.

Beberapa orang mengesampingkan Jahshua setelah mereka diselamatkan dan berusaha melakukan kebaikan dari dirinya sendiri. Yang ada di dalam diri kita hanyalah kejahatan saja.  Dan oleh karena itu kita hanya bisa melakukan kejahatan.  Dengan kekuatan kita sendiri (meskipun kita sudah diselamatkan) kita hanya melakukan yang salah. Itulah realitas kedagingan kita.


Apa yangselalu kita lakukan,
Yang baik atau yang jahat?
Yang jahat

Di dalam buku pujian, ‘Pujilah Tuhan,’ ada sebuah lagu yang berbunyi seperti ini, “♪Tanpa Jahshua kita hanya akan tersandung. Kita seperti kapal di tengah samudera tanpa layar.♪” Tanpa Jahshua kita hanya bisa berbuat dosa. Kita adalah menjadi benar hanya karena kita sudah diselamatkan. Dan pada kenyataannya, kita adalah orang jahat.

Rasul Paulus mengatakan, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Kalau seseorang ada di dalam Jahshua, hal itu tidak penting. Akan tetapi kalau dia tidak ada di dalam Dia, dia akan berusaha melakukan yang baik di hadapanNya. Akan tetapi semakin keras dia berusaha, semakin dia mendapati dirinya melakukan kejahatan.

Bahkan raja Daud mempunyai sifat-dasar yang sama. Ketika negaranya damai dan makmur, dia mulai melihat-lihat dari sotoh rumahnya. Dia melihat sesuatu yang sangat menggoda dan jatuh kedalam kesenangan sensual. Bagaimana keadaannya ketika dia melupakan Jahweh! Dia yang sungguh-sungguh jahat. Dia membunuh Uriah dan mengambil isterinya, tapi dia tidak bisa melihat kejahatannya sendiri. Dia membuat alasan untuk perbuatan-perbuatannya sendiri.

Dan pada suatu hari, Natan pergi menghadap Daud, lalu berkata. : “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu” (2 Samuel 12 :1-4).

Daud berkata, “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.” Kemarahannya begitu besar, sampai dia berkata, “Dia mempunyai banyak ternak dan dia bisa mengambil seekor saja domba dari antara ternak-ternaknya sendiri. Tetapi dia mengambil satu-satunya domba miliki orang miskin itu untuk memberi makan tamunya. Dia harus mati!” Dan Natan berkata, “Engkaulah orang itu.” Kalau kita tidak mengikuti Jahshua dan ada di dalam Dia, bahkan orang yang sudah mengaku dilahirkan kembali sekalipun bisa jatuh ke dalam kesalahan yang sama saja.

Hal itu juga sama bagi semua orang, termasuk mereka yang setia. Kita selalu tersandung , mempraktekkan kejahatan tanpa Jahshua. Jadi saat ini kita berterima kasih lagi bahwa Jahshua menyelamatkan kita meskipun di dalam diri kita ada kejahatan. “Saya ingin berteduh di bawah naung salib” Hati kita mendapat kelegaan di bawah naung penyelamatan Kristus. Tetapi kalau kita pergi dari naung salib itu dan mencari kelegaan dari diri kita sendiri, kita tidak akan pernah mendapat kelegaan.



Jahweh memberikan kepada kita kebenaran iman Sebelum ada Hukum Taurat

Apa yang terlebih dulu, Iman
atau Hukum Taurat?
Iman

Rasul Paulus berkata bahwa Jahweh memberikan kepada kita kebenaran iman terlebih dahulu. Kebenaran iman ada terlebih dahulu. Jahweh memberikan hal itu kepada Adam dan Hawa, kepada Kain dan Habel, lalu kepada Set dan Henokh....terus kepada Nuh..., lalu kepada Abraham, Ishak, kepada Yakub dan 12 orang anaknya. Meskipun tanpa Hukum Taurat mereka menjadi orang benar di hadapan Jahweh melalui iman di dalam FirmanNya. Mereka diberkati dan mendapat kelegaan melalui iman mereka di dalam FirmanNya.

Dan kemudian keturunan Yakub tinggal di Mesir sebagai budak selama 400 tahun karena Yusuf. Lalu Jahweh membimbing mereka keluar ke tanah Kanaan di bawah pimpinan Musa. Akan tetapi selama masa 400 tahun perbudakan, mereka melupakan kebenaran iman.

Kemudian Jahweh membawa mereka menyeberang Laut Merah melalui mujizat-Nya dan membawa mereka ke padang gurun. Sewaktu mereka mencapai padang gurun Sin, Dia memberikan kepada mereka Hukum Taurat di Gunung Sinai. Dia memberi mereka Sepuluh Firman Jahweh yang memiliki 613 perincian. “Akulah Jahweh ayahmu, Jahweh Abraham, Jahweh Ishak dan Jahweh Yakub. Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Jahweh.”  Jahweh memberikan Hukum Taurat kepada bangsa Israel.

Dia memberikan hukum Taurat kepada mereka supaya mereka “mengenal dosa” (Roma 3: 20). Ia memberikan hokum Taurat agar manusia mengerti apa yang disukai dan yang tidak disukai Jahweh dan untuk menyatakan kebenaran dan kekudusan-Nya.

Semua orang Israel yang telah diperbudak di Mesir selama 400 tahun menyeberangi Laut Merah. Tetapi mereka tidak pernah bertemu dengan Jahweh Abraham, Jahweh Ishak dan Jahweh Yakub. Mereka tidak mengenal-Nya.

Pada saat mereka hidup sebagai budak selama 400 tahun, mereka sudah melupakan kebenaran Jahweh. Mereka tidak memiliki pemimpin. Yakub dan Yusuf adalah pemimpin mereka, tetapi keduanya telah lama mati. Dan nampaknya Yusuf gagal dalam mewariskan imannya kepada kedua anaknya, Manasye dan Efraim.

Oleh karena itu, bangsa Israel perlu menemukan dan bertemu dengan Jahweh karena mereka telah melupakan kebenaran Jahweh. Oleh karena itu Jahweh memberikan kepada mereka kebenaran iman terlebih dahulu dan kemudian memberikan kepada mereka Hukum Taurat setelah mereka melupakan iman itu. Jahweh memberikan Hukum Taurat untuk membawa mereka kembali kepadaNya.

Untuk menyelamatkan bangsa Israel, untuk menjadikan mereka sebagai umat-Nya, umat Abraham, maka Jahweh memerintahkan mereka untuk disunat.

Tujuan-Nya dalam memanggil mereka adalah pertama-tama untuk membuat mereka tahu bahwa ada Jahweh dengan menetapkan Hukum dan yang kedua adalah untuk membuat mereka tahu bahwa mereka berdosa di hadapan-Nya. Ia ingin agar mereka datang ke hadirat-Nya dan menjadi umat-Nya dengan menerima penyelamatan melalui korban penyelamatan yang diberikan Jahweh kepada mereka. Dan Ia menjadikan bangsa Israel sebagai umat-Nya.

Bangsa Israel diselamatkan melalui hukum (sistim korban) dengan percaya kepada Mesias yang akan datang. 


Siapakah yang ingin
ditemui Jahshua?
Orang berdosa yang tidak
memiliki gembala

Belakangan ini banyak orang seperti itu. Mereka membimbing gerakan sosial dengan slogan, “selamatkan orang yang tertindas dalam negara.” Mereka percaya bahwa Jahshua datang untuk menyelamatkan orang miskin dan orang tertindas. Jadi, mereka belajar teologi di dalam seminari teologi, ambil bagian dalam gerakan politik, dan berusaha menyelamatkan orang lemah di dalam segala bidang di masyarakat.

Mereka adalah orang yang mengatakan bahwa, “Mari kita hidup dengan hukum yang kudus dan penuh anugerah, yaitu taat kepada Hukum Taurat melalui FirmanNya.” Akan tetapi mereka tidak mengenal arti yang sesungguhnya dari Hukum Taurat. 

Kita juga bisa mengatakan bahwa tidak ada nabi, hamba Jahweh selama 400 tahun sebelum Kristus. Bangsa Israel menjadi sekawan domba tanpa gembala.

Mereka tidak mempunyai Hukum ataupun pemimpin. Jahweh tidak menyatakan diriNya melalui pemimpin agama yang munafik. Israel menjadi jajahan kerajaan Roma. Oleh karena itu Jahshua berkata kepada orang Israel yang mengikutiNya ke padang gurun bahwa Ia tidak akan membiarkan mereka pergi dalam keadaan lapar. Dia merasa kasihan kepada sekawan domba yang tidak memiliki gembala itu. Saat itu banyak di antara mereka yang menderita.

Dan para ahli Taurat adalah kelompok orang yang mempunayi hak pribadi yang tetap; orang-orang Farisi adalah sokoguru Israel, agama Yahudi. Mereka sangat sombong.

Dan ahli Taurat ini bertanya kepada Jahshua di dalam Lukas 10:25, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Dia berpikir bahwa tidak ada orang yang lebih baik daripadanya di antara seluruh bangsa Israel. Oleh karena itu, ahli Taurat ini (yang belum diselamatkan) menantang Jahshua dan berkata, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

Ahli Taurat ini adalah bayangan kita. Dia bertanya kepada Jahshua, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”, Jahshua menjawab “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”

Maka ahli Taurat itu menjawab, “Kasihilah Tuhan, Jahwehmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Lalu Jahshua berkata kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Dia menantang Jahshua tanpa mengetahui bahwa dirinya adalah jahat, yang dia tidak akan bisa selamat. Jahshua bertanya kepadanya, “Apa yang tertulis di dalam hukum? Apa yang kaubaca?”


Apa yang kaubaca?
Kita adalah orang berdosa yang
tidak bisa mengikuti hukum

“Apa yang kaubaca?” “Jawabanmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

“Apa yang kaubaca?” Artinya, apa yang engkau ketahui dan yang engkau pahami dari Hukum Taurat.

Seperti banyak orang lain di masa sekarang ini, ahli Taurat ini mengira bahwa Jahweh memberikan Hukum Taurat untuk ditaatinya. Oleh karena itu dia menjawab, “Kasihilah Tuhan, Jahwehmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Hukum Taurat tidak mempunyai kesalahan. Hukum ini memberikan kepada kita hukum yang sempurna. Hukum ini mengajarkan kepada kita untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Memang sangat benar untuk untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan, tetapi perintah ini begitu kudus sehingga tidak bisa diikuti.

“Bagaimana kamu membaca itu?” berarti bahwa Hukum Taurat itu benar tetapi bagaimana engkau mengerti hal itu? Ahli Taurat itu berpikir bahwa Jahweh memberikan hukum  itu kepadanya untuk ditaati. Akan tetapi hukum Jahweh diberikan supaya kita mengenal kekurangan dan kejahatan kita. Hukum itu memperlihatkan dosa kita, “Kamu berdosa. Kamu membunuh sewaktu Aku berkata jangan membunuh. Mengapa kamu tidak mentaati Aku?”

Hukum Taurat memperlihatkan dosa manusia yang ada di dalam hatinya. Mari kita mengambil sebuah contoh, saya melihat buah Semangka yang matang di kebun. Jahweh memperingatkan saya dengan Hukum Taurat, “Jangan memetik semangka itu. Kalau kamu memetik itu, perbuatan itu akan mempermalukan Aku.” “Ya, Bapa.” “Kebun itu adalah milik Tuan ini dan Tuan itu, oleh karena itu kamu tidak boleh memetiknya.” “Ya, Bapa.”

Sewaktu kita mendengar Hukum Taurat yang melarang kita memetik buah itu, kita merasakan adanya dorongan yang kuat  untuk memetiknya. Kalau kita menekan sebuah pegas, maka pegas cenderung melenting sebagai reaksi atas tekanan yang kita lakukan.  Dosa manusia juga seperti itu.

Jahweh melarang kita untuk melakukan yang jahat. Jahweh dapat berkata demikian oleh karena Dia adalah suci dan karena Dia sempurna dan Dia karena mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Di pihak lain, kita hanya bisa “tidak pernah” tidak berdosa dan “tidak pernah” melakukan yang benar. Kita “tidak pernah” memiliki kebaikan di dalam hati kita. Hukum Taurat berkata jangan (kata ‘jangan’ dipakai dengan arti sama dengan ‘tidak pernah’). Mengapa? Karena menudia mempunyai nafsu di dalam hati mereka. Kita melakukan perzinahan karena di dalam hati kita ada nafsu perzinahan..

Kita harus membaca Alkitab secara teliti. Waktu pertama kali saya percaya kepada Jahshua, saya sangat percaya kepada apa yang dikatakan oleh Firman Jahweh. Saya membaca bahwa Jahshua mati di atas kayu salib bagi saya dan saya tidak bisa menahan air mata saya. Saya sungguh-sungguh jahat sampai Dia harus mati di atas kayu salibNya....hati saya begitu hancur sekali sampai saya percaya padaNya. Kemudian saya berpikir bahwa kalau saya mau percaya kepadaNya, saya akan percaya sesuai dengan FirmanNya.”

Sewaktu saya membaca Keluaran 20, dikatakan disana, “Jangan ada padamu Jahweh lain di hadapan-Ku.” Saya berdoa dalam hati penuh pertobatan karena firman ini. Saya mencoba menyelidiki ingatan saya untuk mencari apakah saya pernah memiliki Jahweh lain di hadapanNya, menyebut namaNya secara sembarangan, atau pernah sujud menyembah Jahweh yang lain.  Dan saya mengingat bahwa saya pernah beberapa kali menyembah kepada Jahweh lain di dalam ibadah penghormatan kepada nenek-moyang saya. Saya melakukan dosa menyembah Jahweh lain.

Jadi saya berdoa pertobatan, “Tuhan, saya pernah menyembah berhala. Saya harus mendapat hukum atas perbuatan saya. Ampuni dosa saya. Saya tidak akan melakukan hal itu lagi.” Dengan demikian satu buah dosa sudah diselesaikan.

Kemudian saya mulai mengingat-ingat apakah saya pernah memanggil namaNya dengan sembarangan. Lalu saya mengingat bahwa waktu saya mulai percaya, saya merokok. Seorang teman saya mengatakan, “Tidakkah engkau mempermalukan nama Tuhan kalau engkau merokok? Bagaimana mungkin orang Kristen merokok?”

 Itu juga berarti menyebut nama Tuhan dengan sembarangan, bukan? Kemudian saya berdoa, “Tuhan, saya pernah menyebut namaMu dengan sembarangan. Apuni saya. Saya akan berhenti merokok.” Lalu saya berusaha berhenti merokok, tapi saya terus saja menghisapnya selama hampir setahun. Rasanya susah sekali berhenti merokok, bahkan kelihatannya hampir tidak mungkin.. tetapi pada akhirnya saya berhasil berhenti merokok. Saya merasa dosa ini sudah diselesaikan.

Yang  selanjutnya adalah, “Kuduskanlah Hari Sabat.” Itu berarti kita tidak boleh melakukan hal-hal yang lain pada hari Minggu ; tidak boleh bisnis ; tidak boleh mencari uang. Maka saya menghentikan semuanya itu.

Dan ada juga, “Hormatilah ayah dan ibumu.” Saya menghormati mereka kalau mereka jauh dari saya, tapi saya rasa mereka menjadi sumber sakit kepala kalau dekat. “Ya ampun, saya melakukan kesalahan di hadapan Jahweh. Ampuni saya.” Saya berdoa dengan penuh pertobatan.

Akan tetapi saya tidak dapat menghotmati orang tua saya lagi karena mereka sudah meninggal saat itu. Apa yang dapat saya lakukan? “Tuhan, ampuni saya, orang berdosa yang tidak berguna ini. Engkau mati di atas salib untuk saya.” Betapa saya berterima kasih kepadaNya!

Dengan cara ini, saya merasa bahwa dosa-dosa saya satu demi satu sudah dibereskan. Selain itu, ada juga Hukum Taurat lain seperti...jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, dll. Saya menyadari bahwa saya sama sekali tidak mentaati satu hukumpun.. Saya berdoa semalam suntuk. Akan tetapi doa pertobatan sama sekali tidak menyenangkan. Saya akan membicarakan hal itu.

Sewaktu saya berpikir mengenai penyaliban Jahshua, saya dapat ikut merasakan sakit yang dialami Jahshua. Dan Dia mati untuk kita yang tidak bisa hidup dalam ketaatan kepada FirmanNya. Saya menangis semalaman dan memikirkan betapa saya mengasihiNya dan berterima kasih kepadaNya karena Ia memberikan saya kesenangan yang sesungguhnya..

Pada tahun pertama saya ke gereja, semua sesuatu nampaknya mudah, tapi pada tahun kedua, situasi menjadi sangat sulit karena saya harus berpkir lebih keras untuk membuat air mata saya tercurah, karena sudah terlalu sering..

Kalau air mata tidak juga tercurah, saya pergi ke gunung untuk berdoa dan berpuasa di sana selama tiga hari. Dan saya mulai menangis lagi. Saya basah oleh air mata, kembali tempat tinggal saya, dan menangis lagi di gereja.

Orang-orang di sekitar saya berkata, “Anda  menjadi begitu suci dengan doa anda di gunung itu.” Namun air mata akhirnya kering lagi. Pada tahun ketiga, rasanya jauh lebih susah lagi.  Saya akan memikirkan mengenai kesalahan yang saya lakukan kepada sahabat-sahabat sayad dan kepada suadara-saudara seiman saya, dan saya akan menangis lagi. Sejak 4 tahu demikian, air mata saya kering lagi. Memang masihada kelenjar air mata di mata saya, tetapi nampaknya sudah tidak berguna lagi.

Setelah tahun kelima, saya tidak dapat menangis bagaimanapun kerasnya saya berusaha. Kemudian yang terjadi, hidung saya yang mulai mengeluarkan air. Setelah beberapa tahun demikian, saya menjadi jijik kepada diri saya sendiri, dan kembai ke Alkitab sekali lagi.



Hukum Taurat adalah untuk Pengetahuan akan Dosa

Apa yang harus kita ketahui
tentang Hukum Taurat?
Kita tidak akan pernah bisa mentaati
Hukum Taurat

Dalam Roma 3 :20, kita membaca, “Justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” Saya menganggap bahwa ayat ini adalah pesan pribadi kepada rasul Paulus, dan hanya percaya ayat-ayat yang saya pilih sendiri. Namun setelah air mata saya kering, saya tidak bisa melanjutkan kehidupan iman saya.

Oleh karena itu, saya berdosa berkali-kali dan saya menyadari bahwa saya memiliki dosa di dalam hati saya dan tidak mungkin bisa mentaati hukum Taurat. Namun, saya tidak bisa meninggalkan hukum Taurat karena saya percaya bahwa Hukum itu diberikan untuk ditaati. Akhirnya saya menjadi ahli Taurat seperti ada di dalam Alkitab. Saya merasa sulit sekali untuk menjalani kehidupan oleh iman.

Jadi untuk melepaskan diri dari kesulitan itu, saya berusaha sekuat tenaga untuk mencari pendeta yang berkhotbah tentang kelahiran dari air dan Roh. Saya bertemu dengan seorang pendeta yang berkata bahwa segala dosa kita telah ditebus.

Ketika saya mendengar bahwa saya tidak lagi berdosa, hal itu menjadi seperti angin segar yang bertiup di dalam hati saya. Saya memiliki banyak kali dosa dan saat saya membaca Hukum Taurat, saya mulai menyadari dosa-dosa itu. Saya sudah melanggar Sepuluh Perintah Jahweh di dalam hati saya. Berdosa di dalam hati juga merupakan suatu dosa, dan tidak sengaja saya menjadi orang percaya pada Hukum Taurat.

Setiap kali saya mentaati Hukum Taurat, saya merasa senang. Akan tetapi kalau saya tidak bisa mentaati Hukum Taurat, saya menjadi sangat tersiksa marah dan menderita. Akhirnya saya menjadi sangat kecewa atas semuanya itu. Kalau saja saya diajar sejak awal, “Bukan demikian. Ada maksud yang lain dalam Hukum Taurat. Hukum itu adalah untuk menunjukkan bahwa engkau hanyalah segumpal dosa; engkau cinta uang; lawan jenismu; dan hal-hal lain yang nampaknya indah. Engkau memiliki hal-hal yang lebih kasihi daripada Jahweh. Engkau mau mengikuti perkara-perkara dunia.  Hukum Taurat diberikan kepadamu bukan untuk ditaati, tetapi agar engkau mengenal bahwa engkau adalah orang berdosa dengan kejahatan di dalam hatimu.

Kalau seseorang mengajar hal itu sejak dahulu, saya tidak perlu tersiksa selama 10 tahun.  Karena saya tidak tahu, saya hidup di bawah Hukum Taurat selama 10 tahun, sampai saya sendiri menyadari kebenaran yang sesungguhnya

Hukum yang keempat adalah, “Kuduskanlah hari sabat.”  Itu berarti tidak boleh bekerja pada hari Sabat. Artinya  bahwa kalau kita mengadakan perjalanan jauh pada hari itu, kita harus berjalan kaki, dan tidak naik kendaraan. Dan saya pikir bahwa saya harus berjalan kaki ke tempat saya berkhotbah agar saya leboh dihargai. Tetapi hal itu begitu sulit untuk dipraktekkan sampai akhirnya saya berhenti mempraktekannya.

Ada tertulis, “Apa yang kaubaca?” Saya tidak memahami pertanyaan ini dan tersiksa selama 10 tahun. Ahli Taurat itu juga tidak mengerti maksud pertanyaan itu. Dia berpikir bahwa kalau dia mentaati Hukum Taurat dan hidup dengan hati-hati, dia akan mendapat berkat di hadapan Jahweh.

Akan tetapi Jahshua berkata kepadanya, “Apa yang kaubaca?” Ya, jawaban kamu benar; kamu menjawab sebagaimana apa yang tertulis. Berusahalah untuk mentaatinya. Kalau kamu bisa mentaatinya, kamu akan hidup, tapi kalau kamu tidak bisa mentaatinya, kamu akan mati (kebalikan dari ‘hidup’ adalah ‘mati’, bukan ?).

Akan tetapi ahli Taurat itu masih juga tidak mengerti. Ahli Taurat ini adalah kita, anda dan saya. Saya belajar theology selama 10 tahun. Saya berusaha mencoba banyak hal, membaca semua, berpuasa, merenung, berbicara dalam bahasa roh dll. Saya membaca Alkitab selama 10 tahun dan berharap untuk mencapai sesuatu. Akan tetapi secara rohani saya adalah orang yang buta.

Inilah alasan mengapa orang berdosa harus bertemu seseorang yang bisa mengajarkan kepadanya bahwa hanya Jahshua, Tuhan kita, yang bisa membukakan matanya. Kemudian dia akan menyadari, “Ah. Kita tidak akan bisa mentaati Hukum Taurat. Seberapapun kerasnya kita berusaha,  kita tidak akan mampu. Tetapi Jahshua datang untuk menyelamatkan kita dengan air dan Roh. Halleluya!” Kita dapat diselamatkan oleh air dan Roh. Itulah anugerah, karunia dari Jahweh. Jadi kita memuji Tuhan.

Saya sangat beruntung karena telah selesai dengan jalan yang sangat sulit, tapi ada banyak orang yang menghabiskan seluruh kehidupan mereka untuk belajar belajar teologi dengan sia-sia, tanpa pernah mengenal kebenaran sampai mereka mati.  Banyak orang yang percaya selama puluhan tahun atau dari generasi ke generasi, tetapi tetap belum dilahirkan kembali.

Kita mengakhiri keadaan sebagai orang berdosa sewaktu kita sadar bahwa kita tidak akan bisa mentaati Hukum Taurat, dan berdiri di hadapan Jahshua dan mendengar Injil air dan Roh. Sewaktu kita bertemu Jahshua, kita mengakhiri segala hukuman dan kutukan. Kita adalah orang yang paling berdosa, tapi menjadi orang benar karena Jahshua menyelamatkan kita dari air dan Roh.

Jahshua berkata bahwa kita tidak akan bisa hidup seturut dengan kehendakNya. Jahshua mengatakan hal itu kepada ahli Taurat yang bercakap-cakap denganNya, tetapi ahli Taurat itu tidak mengerti. Oleh karena itu, Ia menceritakan sebuah perumpamaan untuk menolongnya mengerti.  


Apakah yang membuat seseorang
gagal dalam kehidupan iman?
Dosa

“Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho ; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati” (Lukas 10:30). Jahshua berkata kepadanya bahwa dia tersiksa sepanjang kehidupannya sama seperti orang yang dipukuli oleh perampok dan ditinggalkan setengah mati.

Seseorang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Yerikho adalah dunia sekuler, dan Yerusalem berarti kota agama; kota iman, kota pengikut hukum. Perumpamaan itu mengajarkan kepada kita bahwa kalau kita percaya pada Kristus sebagai agama kita, kita tidak akan bisa dirusakkan.

“Seseorang turun dari Yerusalem ke Yerikho dan jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati” Yerusalem adalah kota besar dengan banyak penduduk. Di sana ada Imam Besar, dan sekumpulan imam-imam, orang-orang Lewi dan para tokoh agama. Banyak orang yang sungguh-sungguh mengenal hukum Taurat dengan baik. Di kota itu, mereka berusaha hidup dengan Hukum Taurat, tetapi seringkali gagal dan menuju ke Yerikho. Mereka sering jatuh ke dalam dunia (Yerikho) dan bertemu dengan perampok.

Orang itu bertemu dengan perampok di tengah jalan dari Yerusalem ke Yerikho dan dirampok habis-habisan, Itu berarti bahwa dia kehilangan kebenarannya. Kita tidak mungkin bisa hidup oleh Hukum Taurat, dan hidup dengan ketaatan kepada Hukum Taurat. Rasul Paulus berkata di dalam Roma 7, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.”

Saya berharap bahwa saya bisa melakukan hal yang baik dan hidup di dalam FirmanNya. Akan tetapi yang ada di hati manusia, adalah percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan (Markus 7:21-23).

Oleh karena kejahatan tersebut ada di dalam hati kita, dan kadangkala terjadi dalam tindakan, maka kita melakukan apa yang sbeenarnya tidak ingin kita lakukan dan tidak melakukan apa yang ingin kita lakukan. Kita terus mengulangi perbuatan jahat di dalam hati kita. Yang dilakukan oleh iblis adalah memberikan dorongan sedikit untuk kita melakukan dosa.



Dosa-dosa yang ada di dalam hati seseorang

Bisakah kita hidup
oleh Hukum Taurat?
Tidak

Di dalam Markus 7, ada tertulis, “Apa yang masuk ke dalam seseorang dari luar tidak menajiskannya, tapi yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

Dia berkata bahwa didalam hati manusia ada pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebabalan. Kita semua memiliki dosa pembunuhan di dalam hati kita.

Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki dosa pembunuhan. Ibu-ibu berkata kepada anaknya, “Jangan lakukan itu. Sialan kamu.” Lalu, “Sini! Saya sudah katakan jangan lakukan itu. Aku bunuh kamu karena perbuatanmu itu.” Itu pembunuhan. Anda dapat membunuh anak-anak anda dengan mengucapkan kata-kata yang tidak anda sadari.

Anak-anak kita pasti masih hidup, karena mereka pasti akan lari dengan cepat; tetapi kalau kita mengeluarkan semua kemarahan kita, maka mereka bisa benar-benar mati. Di hadapan Jahweh, kita bisa saja sudah membunuh mereka. Kadang kala kita berteriak sambil berkata, “Ya Tuhan, apa yang aku buat kepada anakku? Mengapa aku melakukan hal itu?” Setelah melihat bahwa anak kita babak belur setelah kita memukulinya, kita berpikir bahwa kita pasti sudah gila karena memukul anak kita sampai demikian. Kita melakukan hal itu karena kita mempunyai pembunuhan di dalam hati kita.

Jadi, “aku melakukan apa yang tidak ingin aku lakukan” berarti kita melakukan kejahatan karena memang pada dasarnya kita jahat. Dan sangat mudah bagi Iblis untuk mencobai kita untuk berbuat dosa.

Katakanlah ada seseorang yang belum diselamatkan duduk di sebuah pondok selama 10 tahun. Yang dilakukannya hanya memandang ke dinding dan bersemadi seperti Sung Chol, seorang biarawan Budha yang terkenal di Korea. Memang tidak ada masalah dengan apa yang dilakukannya, memandang ke dinding dan bermeditasi, tetapi tetap saja harus ada seseorang yang membawa makanan dan membersihkan kotorannya.

Lalu, dia harus mengadakan kontak dengan seseorang. Kalau orang itu laki-laki, tidak ada masalah, tapi coba saja kalau seseorang itu adalah seorang wanita cantik. Kalau misalnya orang yang bermeditasi itu kebetulan melihat wanita cantik itu, maka usahanya bermeditasi di pondok akan sia-sia. Dia akan mulai berpikir, “Saya tidak akan berzinah. Saya punya nafsu zinah, tapi saya akan menghilangkannya. Aku harus membuangnya.  Tidak.  Lenyaplah dari pikiranku.”

Akan tetapi ketetapan hatinya akan hilang pada saat dia melihat wanita itu. Setelah wanita itu pergi, dia akan melihat dalam hatinya. Latihan selama 5 tahun sia-sia karena kesalahan sedikit saja.

Sangat mudah bagi Setan untuk menghilangkan kebenaran manusia. Yang dilakukan setan hanyalah memberikan sedikit dorongan kepada manusia itu. Ketika seseorang berjuang untuk kebenaran tanpa terlebih dahulu diselamatkan, dia akan tetap jatuh ke dalam dosa. Dia memberi perpuluhan setiap hari Minggu, berpuasa selama 40 hari, berdoa fajar sebanyak 100 kali...tapi Setan akan menggodanya dengan keindahan-keindahan di dunia.

“Saya akan memberi jabatan yang bagus di perusahaan, tetapi kamu orang Kristen yang tidak bisa bekerja pada hari Minggu, bukan? Jabatan ini sangat penting. Mungkin kamu bisa bekerja pada hari Minggu 3 kali sebulan, dan pergi ke gereja pada hari Minggu sekali saja dalam sebulan. Kalau kamu setuju, kamu bisa menduduki jabatan itu dan menikmati penghargaan yang besar dan gaji yang tinggi. Bagaimana?” Untuk tawaran seperti ini, kemungkinan 100 dari 100 orang akan setuju.

Kalau tidak, ada juga yang memiliki kelemahamn dengan lawan jenis. Iblis mengirim wanita kepadanya dan dia akan jatuh cinta mati-matian kepada wanita itu dan langsung lupa kepada Jahweh. Demikianlah kebenaran manusia hilang.

Kalau kita berusaha hidup menurut Hukum Taurat, hasilnya hanya luka dosa, kemiskinan; kita akan kehilangan semua kebenaran.“Turun dari Yerusalem ke Yerikho dan jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.”

Ini berarti bahwa walaupun kita berusaha menetap di Yerusalem dengan mentaati kehendak Jahweh, kita akan senantiasa tersandung oleh kelemahan kita sendiri dan akhirnya akan hancur.

Dan kemudian kita akan berdoa meminta pengampunan berkali-kali di hadapan Jahweh. “Tuhan, saya sudah berdosa. Ampuni saya; saya tidak akan melakukan hal itu lagi. Saya berjanji bahwa itu yang terakhir.  Saya memohon agar Engkau mengampuni saya sekali ini saja.”

Namun itu bukan yang terakhir. Manusia tidak bisa hidup di dunia ini tanpa berdosa. Dia bisa saja menghindarinya beberapa kali, tetapi tidak mungkin untuk tidak berdosa lagi. Maka dia berdosa lagi. “Tuhan, ampuni saya.” Kalau hal itu diulangi, dia akan menjauhkan dirinya dari gereja, dan Tuhan, sehingga akhirnya dia akan masuk ke neraka.

Perjalanan ke Yerikho berarti jatuh ke dunia sekular ; semakin dekat ke dunia dan jauh dari Yerusalem. Pada awalnya, Yerusalem masih dekat. Tetapi setelah lingkaran dosa—pertobatan berulang terus, kita akan mendapati bahwa kita sedang berdiri di jalanan Yerikho ; semakin mendalam kejatuhan ke dalam dunia.


Siapa bisa diselamatkan?
Orang yang berhenti
berusaha sendiri

Siapa yang ditemui orang itu di Yerikho? Dia bertemu perampok. Orang yang sama sekali tidak mengenal Hukum Taurat dan menjadi penjahat seperti anjing. Ia minum minuman keras, tidur di mana saja, membuang kotoran di mana saja. Itulah sebabnya dia seperti anjing. Dia tahu bahwa dia tidak boleh minum minuman keras. Ia kapok keesokan paginga, tetapi kemudian minum lagi.

Hal itu sama dengan seseorang yang pergi ke Yerikho. Dia ditinggalkan dalam keadaan terluka dan hampir mati. Di dalam hatinya hanya ada dosa saja. Inilah manusia.

Orang-orang percaya kepada Jahshua dan hidup di dalam Hukum Taurat di Yerusalem, tapi mereka ditinggalkan dalam keadaan berdosa di dalam hatinya. Yang mereka miliki untuk ditunjukkan kepada orang lain adalah luka-luka dosa mereka.  Mereka yang memiliki dosa akan masuk ke dalam neraka. Mereka telah tahu itu, tapi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Anda dan saya sama saja.

Ahli Taurat yang kurang mengerti hukum Taurat Jahweh akan berjuang sepanjang hidupnya, tapi akan berakhir di dalam  neraka dengan luka besar. Itulah kita, anda dan saya.

Hanya Jahshua yang dapat menyelamatkan kita. Di sekitar kita ada banyak orang yang pandai yang terus menerus membanggakan pengetahuan mereka. Mereka semua berpura-pura hidup menurut hukum Taurat Jahweh, tapi mereka tidak bisa jujur kepada diri mereka sendiri.

Ingin tahu lebih banyak tentang dilahirkan kembali dari air dan Roh? Silahkan klik banner di bawah untuk mendapatkan buku gratis anda tentang dilahirkan kembali dari air dan Roh.

Di antara mereka adalah orang-orang berdosa yang sedang mengadakan perjalan ke Yerikho, yang telah dipukuli habis-habisan oleh perampok dan hampir mati. Kita menyadari betapa tidak berdayanya kita di hadapan Jahweh.

Kita harus mengakui di hadapanNya. “Tuhan, saya akan masuk ke neraka kalau Engkau tidak menyelamatkan saya. Saya akan pergi kemana saja Engkau pergi, walaupun ada angin ribut dan badai, kalau Engkau mengijinkan saya untuk mendengar Injil yang sesungguhnya. Kalau Engkau meninggalkan saya, saya akan masuk ke neraka. Saya mohon kepadaMu agarEngkau  menyelamatkan saya.”

Orang  yang mengetahui bahwa mereka sedang menuju ke neraka dan berhenti berusaha membuat jalan sendiri akan diselamatkan. Kita tidak bisa diselamatkan dengan cara kita sendiri.

Kita harus mengetahui bahwa kita sama seperti orang yang jatuh ke tangan para perampok itu.

Kembali ke Daftar

 


Versi yang bisa dicetak   |  

 
Bible studies
    Khotbah
    Pernyataan iman
    Apakah Injil itu?
    Beberapa istilah dalam Alkitab
    Pertanyaan yang sering diajukan tentang Iman Kristen
 

   
Copyright © 2001 - 2019 The New Life Mission. ALL RIGHTS reserved.